Selasa, 26 Mei 2009

0 komentar



Selengkapnya...

0 komentar

Selengkapnya...

Senin, 25 Mei 2009

0 komentar

Selengkapnya...

0 komentar

Selengkapnya...

Kamis, 05 Maret 2009

0 komentar


"IBU MAAFKAN AKU"


Siang itu mentari begitu cerah. Secerah hati orang yang dekat dengan Robbnya. Orang yang selalu menjaga cintanya kepada anak-anaknya, siapa lagi kalu bukan ibuku. Ibu yang selama ini selalu aku anggap remeh karena kecacatan beliau. Ibu yang selama ini sering aku lukai walaupun selalu dibalas dengan sunggingan senyum manis dari bibir indahnya. Ibu yang senantiasa menasehatiku dikala aku lupa. Orang yang tak pernah bosan membantuku walaupun dalam kekurangannya. Yang selalu setia menemani aku dalam keadaan sedih.

Hanya aku yang tidak sadar akan besar dan luasnya kasih sayang yang dicurahkannya. Terkadang airmatanya mengalir di kelopak matanya karena kat-kata kasarku. Beliau hanya bisa megelus dada… ya… mengelus dada.

Sudah dua tahun ini beliau lumpuh karena penyakit struk yang membuat beliau tidak bisa lagi berjalan normal seperti dulu. Sekarang beliau hanya berjalan dengan tertatih-tatih kalau mau kekamar mandi dan ke darpur. Tak jarang beliau terjatuh ketika sedang berjalan, karena tidak kuat. Penyakit ibu datang secara tiba-tiba. Tanpa tau apa penyebabnya. Yang aku tau setelah ayah mengantar ibu berobat kedokter, beliau sudah divonis struk oleh dokter.

"Roni…? Mau kemana nak?? Kalau mau pergi shalat zhuhur dulu sayang, habis itu baru pergi…" seru ibuku yang sedang menjahit baju di ruang tengah.

"Ah…! Bukan urusan ibu, nanti juga sholat. Kan waktu shalatnya juga masih panjang" jawabku dengan nada sedikit membentak, sambil terus menyalakan motor dan memanaskan mesin.

Lagi-lagi …ibu hanya mengelus dada dan mendung dikelopak matanya mendengar jawabanku. Ya… hanya itu yang bisa dilakukannya. Entah berapa ribu kali sudah aku melukai hati sucinya. Tapi anehnnya beliau tidak pernah sedikitpun seingatku menyakiti apalagi melukai hati ini. Ah…. Entahlah aku ini.

* * * *

Jalan raya kota Semarang semakin siang semakin ramai dengan lalu lalang angkot yang semberautan. Belum lagi pedagang kaki lima yang berdagang di sepanjang jalan menambah semberaut bentuk kota. Aku melaju dengan kencang dan terus memilin gas motorku disepanjang jalan tersebut. Tak kuhiraukan hiruk pikuk kendaraan lain. Sambil dua kupingku disumbat dengan handset MP4 yang kunyalakan keras-keras dalam helmku. Kunikmati perjalananku dengan iringan lagu-lagu rock band barat yang aku sendiri tidak tau apa artinya. Yang penting aku nyaman dan senang mendengarkannya.

Sedang asyik mendengar musik, aku terus menaikan amper kecepatan sepeda motorku. Sehingga melaju dengan kencang. Ditengah keramaian itu amper motorku mencapai 120. semua kendaraan aku dahului dengan keahlianku menyalip ditengah kedaraan lain.

Ketika hendak menyalip sebuah Toyota Vios hitam didepannku. Tiba…sebuah metromini dari depan menghantamku. "BRRAKKKK…….!" Setelah itu tiba-tiba gelap, dan aku seolah terbang ke awan. Setelah itu entahlah….aku tidak ingat lagi dan benar-benar lupa.

Mungkin semua orang berkerumun…. Melihat jasad yang hancur dan berlumur darah itu.

* * * *

Kubuka mata pelan-pelan. Perlahan kucoba memperhatikan disekelilingku. Putih..putih dan putih. Ya…langit-langit kamar yang putih, sprei putih, dan kain penutup putih. Sebuah botol infus menggantung diatas tangan kiriku. Aku belum mengerti aku ada dimana. Seingatku kamarku bukan seperti ini.

Perlahan kugerakkan tubuhku, ada rasa nyeri di bagian belakang punggungku. Kakiku juga begitu berat dan terasa teramat sakit ketika kucoba menggerakkannya.

"Ah…ibu….ibu….sakit" kata itu yang pertama kali keluar dari lidahku yang kurasa juga kelu.

"Kamu sudah sadar nak…! Alhamdulillah ya Allah"…tiba-tiba nama yang kupanggil tadi sudah berada disebelahku dengan jilbab panjangnya. Terlihat ibu habis menangis dan ditangannya kulihat ada sebuah mushaf alqur'an kecil, sepertinya beliau baru selesai tilawah. Sebelum beliau tertatih-tatih dengan kaki lumpuhnya menghampiriku.

Dengan lembut dibelainya dan diciumnya pipiku.

"nak kamu sudah sadar??..." sekali lagi beliau bertanya dengan lembut sambil memelukku

"ya bu…"

"Kenapa saya bisa disini bu…?"

"seminggu yang lalu kamu kecelakaan waktu kamu pergi dari rumah pakai motor"

"kata orang-orang kamu tabrakan dengan metro mini nak…"

" ibu hanya dapat kabar seperti itu dan kamu sudah dibawa oleh orang-orang kerumah sakit."jelas ibu panjang lebar.

Ketika itu ingatanku kembali pulih…aku ingat ketika aku berangkat dari rumah sekitar jam 12 .15 siang. Saat itu ibu menyuruhku untuk shalat zhuhur dulu sebelum berangkat, tapi tidak aku dengarkan. Ya…ya…aku benar-benar ingat ketika beliau aku balas dengan kata-kata keras dan beliau hanya menangis saat itu. Dan sekarang beliaulah orang pertama kali yang ada disampingku menemaniku dirumah sakit, walaupun beliau sendriri juga sakit. Perlahan mataku mulai terasa panas dan seperti ada embun yang menetes dari kelopak mataku. Aku menangis dan menangis. Aku menyesal, seandainya aku dengarkan nasehat ibu waktu itu.

Kuraih tangan ibu yang lembut, dan kucium dengan setulus hati, sambil air mata terus menganak sungai dipipiku.

"ibu maafkan Ronni ya…"

"Ronni nggak mau mendengarkan nasehat ibu kemarin"

"Ronni benar-benar menyesal bu…, gak akan pernah ronni ulangi bu.."

"ya… sudahlah sekarang kamu istirahat dulu biar cepat sembuh…"

"Ibu roni anak durhaka bu, Ronni gak dengar nasehat ibu, selalu bukin ibu nangis. Bu… maafin ronni…."

"sstt…"ibu hanya bisa meletakkan telunjuknya dibibirku

Ibu hanya tersenyum haru dan airmatanya kembali mengalir deras, membasahi wajah dan jilbab putihnya Dipeluknya tubuhku dan didekapnya dengan penuh kasih sayang.

"ibu gak pernah merasa disakiti sama kamu sayang"…..

Hanya itu kata yang keluar dari bibirnya. Oh…ibu betapa mulianya hatimu. Betapa besar cintamu. Dengan apa aku harus membalasnya . Masih pantaskah orang seperti aku disebut sebagai anak.

Ibu maafkan aku….aku janji akan membahagiakan mu.

Ya Allah seandainya ibu ada dosa-dosa biarlah aku yang menanggungnya. Biarlah aku yang di neraka asala jangan beliau. Biarlah aku yang disiksa asalkan jangan ibu.

Ya Allah ampuni dosa ibu, sayangi beliau sebagaimana dia menyayangiku dulu. Tempatkan beliau di surgaMu kelak.

"Ribuan kilo

Jalan yang kau tempuh

Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang kau berikan

Tak mampu ku membalas

Ibu……".

By:

Fachry

NB: Cerpen ini special buat ibu ku yang jauh dimata. Dirumah di jambi. Aku kangen sama ibu. Aku pengen pulang ibu. Ingin dipeluk dan dicium ma ibu

Selengkapnya...

2 komentar

"JARITAN HATI"


Senin 23 February 2009
Dear diary….
Ya Allah hamba macam apakah aku ini?? Yang selalu banyak berharap dari pertolongan Mu tapi selalu menjauhiMu??
Hamba sudah munafik ya Allah kepadaMu…
Hamba sering tobat kepadaMU, tapi hamba sering mengulangi berbuat dosa.
Hamba selalu menyeru kepada kebaikan tapi hamba sendiri seolah-olah jauh dari kebaikan itu sendiri.
Hamba minta Engkau lapangkan rezeki, tapi hamba semakin jarang bersedekah dan berinfaq.

Hamba senantiasa meminta petunjuk dariMu, tapi hamba sendiri seakan menjauh dari petunjuk yang Engkau berikan.
Berharap Engkau memberikan Kemudahan dalam hidup ini, tapi shalat tahajjud saja hamba tidak pernah kerjakan, walaupun alarm hp meronta-ronta membangunkanku ditengah malam.
Mungkin ini akibat dari dosa yang sudah semakin menggunung, sehingga untuk bangun malam saja begitu sulit bagi Hamba.
Hati hamba sudah semakin keras…..membatu…dan terlanjur membatu.
Hamba senantiasa membaca dan berdakwah kalau mendekati zina itu haram, bahkan hafal betul di ingatan hamba ayat walaa taqrobuzzina tapi setiap hari hamba tidak bisa melepaskan dan menahan diri bergaul dengan wanita yang bukan muhrim, ya…hamba tidak pernah membatasinya.

Ya…Rohman ya Robb…
Ampuni hamba yang bodoh ini. Hamba akui hamba begitu lemah dengan cobaanMu. Tapi hamba mohon jangan pernah berhenti bombing hamba dalam hidayahMu. Kepada siapa lagi hamba memohon selain kepada Mu.
Hanya Engkau harapan hamba.
Hamba sadar hamba sangat bodoh dan munafik, tapi jangan pernah berhenti berikan tarbiayahMu melalui ujian-ujianMu.
Berikan ketenangan jiwa, ketentraman hati, dan kedamaian kalbu. Selengkapnya...

Rabu, 04 Maret 2009

hari yang bosan sedunia

0 komentar

kenapa ya...3 hari ini aku lesu bangets dalam aktivitas dakwah. mungkin karena banyak dosa kali yahhhhh. ah...entahlah.
yang jelas sudah tiga hari ini aku merasa sangat jauh dengan Robbku. banyak dosa yang telah aku lakukan. tapi bukan ketenangan yang aku dapatkan, malah kegalauan jiwa. selalu dihantui dengan perasaan bersalah dan berdosa.
ya Allah maafkan hamba yang bodoh ini..... Selengkapnya...

Kamis, 29 Januari 2009

Si Rian Bertanya Aku Menjawab

2 komentar

Si Rian Bertanya Aku Menjawab
Sewaktu duduk-duduk di teras masjid. Si Rian anak SMA kelas 1, tetanggaku datang menghampiri.
“Kak boleh tanya-tanya tidak.”
“Boleh saja” jawabku.
“Kak kok Kakak anti pacaran sih?” Tanya Rian.
Aku balik bertanya “Emang apa gunanya pacaran?”
“Kan bisa lebih mengenal calon istri Kak” jawab si Rian.
“Ooo begitu yah” Aku kembali bertanya “Apakah kamu mencintai pacar kamu?”
“Iya Kak” jawab si Rian.
“Kalau pacaran gunanya untuk mengenal calon istri, terus kenapa Kamu bisa mencintai pacar Kamu padahal Kamu belum mengenalnya? Selain itu, kalau Kamu memang mencintai pacar kamu kenapa tidak langsung dinikahi saja langsung, kan sudah cinta?” jelasku kepada Rian.
“Ooo iya juga yah” si Rian membenarkan.
Rian kembali bertanya “Jadi selama ini Kakak tidak pernah pacaran?”
“Tidak pernah” jawabku. “Dan bayangin nanti kalo sudah nikah Kakak bakalan bilang ke istri Kakak; Sayang engkaulah wanita pertama yang Aku kecup keningnya dengan cinta, yang Aku belai rambutnya dengan kasih sayang, dan engkaulah wanita pertama yang menemaniku melewati malam dingin sunyi dengan bercinta. Pasti istriku berbunga-bunga” lanjutku.
“Wets mesranya” si Rian menyambung omonganku dan kembali bertanya “Trus bagaimana caranya mengenal calon istri?”
“Sebelum memutuskan untuk menikahi seorang perempuan, taaruf dulu” jawabku.
“Taaruf apaan lagi itu Kak?” si Rian penasaran.
“Taaruf itu adalah masa perkenalan, disitu Kamu boleh bertanya tentang dia apa saja bahkan yang bersifat rahasia dan pribadi, sebaliknya Dia juga bisa tanya Kamu. Tapi rahasianya tidak boleh kamu ceritakan ke orang lain. Terus setiap ketemuan pihak perempuan harus ditemani mahramnya. Setelah melalui proses taaruf barulah Kamu dan Dia bisa memutuskan apakah melanjutkan hubungan ke pelaminan atau tidak.” Jawabku panjang lebar.
“Oooo begitu toh namanya taaruf” si Rian meng-o panjang.
Aku melanjutkan pembicaraan “Aku sebenarnya tidak anti pacaran Dik, tapi Kakak baru mau pacaran kalo sudah menikah, karena pacaran ketika sudah nikah dengan sebelum nikah beda banget kayak langit dan bumi Adik.”
“Memang apa bedanya Kak?” si Rian bertanya lagi.
Aku jawab lagi “Bedanya itu kalo kita pacaran sebelum nikah, setiap sentuhan adalah dosa, setiap kecupan adalah dosa, setiap belaian adalah dosa, apalagi kalo melakukan itu ….. tambah dosa deh. Tapi kalo sudah nikah setiap sentuhan lembut adalah pahala, setiap kecupan mesra adalah pahala, setiap belaian kasih sayang adalah pahala, bahkan melakukan itu …. juga dapat pahala.”
Rian cuma manggut-manggut.
“Eh kak punya pulsa tidak buat sms, pulsa Aku abis nih” si Rian minta pulsa buat sms.
“Ada nih” jawabku sambil menyodorkan ponsel.
Setelah mengetik sms dan mengirimnya. Aku kemudian bertanya “Sms apaan sih?”
Sambil menyodorkan kembali ponsel Aku, si Rian menjawab “Nih baca saja sendiri kak”
Aku meraih ponsel dan membaca smsnya; “Dinda kita sudahan dulu yah pacarannya, nanti kita lanjutin kalo udah nikah. Rian Selengkapnya...

Senin, 26 Januari 2009

2 komentar

"KETIKA CINTA BERTARBIYAH"

" Hallo sayang lagi ngapain…? Kita jalan yuk sore ne…!!!"

masih ingat jelas sebuah sms yang aku terima dua hari yang lalu dari Fitri pacarku.

Namun sms itu tak pernah aku balas, dan tak pernah aku tanggapi, walaupun perasaan di hati ingin sekali mengiyakannya. Bahkan kini setiap sms darinya tak pernah aku jawab lagi demi menjaga hati ini. Tapi ah…, semenjak peristiwa itu aku menjadi sadar akan hakikat cinta yang sesungguhnya. Cinta yang suci yang harus aku persembahkan hanya satu-satunya buat Allah. Betapa nikmat ketika kita sudah bisa mencintai Allah melebihi dari cinta kita kepada segalanya. Aku sungguh sangat kagum melihat mereka yang bisa menjaga cinta mereka hanya buat Yang Maha Menciptakan Cinta itu sendiri. Karena Allah tidak akan mengecewakan siapapun yang mencintainya, dan kitapun tidak akan pernah cemburu ketika orang lain juga mencintaiNya. Mungkin itulah hakikat cinta suci yang sesungguhnya.

Jujur aku baru sadar, kalau cinta yang selama ini aku jalin adalah cinta yang dilarang dan dibenci oleh Allah swt. Cinta yang mendatangkan dosa dan penuh dengan aroma maksiat. Cinta yang akan melemparkan aku ke neraka yang sangat panas. Waktu itu menurtkuku inilah cinta yang sesungguhnya, dan inilah cinta yang suci itu. Tapi semua penuh dengan kebohongan.

Setiap sore aku sering jalan-jalan sama Fitri mengelilingi taman bunga di kota kembang ini. Terkadang menyusuri trotoar yang terbentang di sepanjang jalan raya berduaan, sambil bergandengan tangan dengan penuh mesranya. Sesekali kami bercanda ria di sepanjang jalan tersebut. Tak jarang cubitan-cubitan kecil yang nakal mendarat di tangan dan perutku. Senyumnya yang manja membuat aku semakin terbuai di sisinya. Semua itu kami lakukan tanpa sedikitpun rasa malu kepada Allah yang Maha Menyaksikan. Begitupun rumput-rumput yang hanya termagu di pinggir jalan melihat kemesraan kami.

Tapi setelah aku tau itu semua adalah haram barulah aku sedikit-sedikit mencoba untuk meniggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk itu. Bermula ketika saat itu aku diajak Rudi temen sekampus ku mengajak aku dating kepengajian remaja di sebuah masjid. Melalui sebuah sms

" Ri besok ikut gue yach…ada acara seru,,, pokoknya banyak cewek dech di situ, jamin lo pasti suka"

begitu sms rudi yang aku terima sebelumnya. O…ya sebelumnya namaku M.Arinal Haq. Biasa dipanggil Ari oleh temen-temenku.

" ok… aku ikut…" jawabku singkat

Ya udah besok gue tunggu di kosan jam 2.00 siang." Balas Rudi.

Mendengar kata rudi banyak cewek-cewek yang datang, aku lansung mengiyakan ajakannya. Maklum anak muda. He…he...

Besoknya jam 2.00 siang aku dan Rudi ketemu dan lansung berangkat ketempat yang dituju. Aku belum tau di mana tempat yang akan kami tuju. Karena sampe sekarang Rudi terus merahasiakan tempatnya.

"sebenarnya tempatnya masih jauh gak sich…?" Tanyaku pada Rudi penasaran waktu dalam angkot..

"sebentar lagi kita nyampe tenang aja…! Pokoknya tempatnya mulia banget" jawab Rudi singkat.

Tidak berapa lama angkot itu berhenti di depan sebuah masjid. Tangan ku ditarik oleh Rudi pertanda mengajak turun. Dan setelah membayar ongkosnya, angkot itu berlalu begitu saja di depan kami.

" lho… ko' kita ke masjid??" Tanya ku.

"yaa…ini tempatnya, khan ini tempat paling mulia di bumi" jawab Rudi senyum.

"Huh,,," cibirku kesal.

Tiba kami berdua sudah disambut oleh orang-orang yang berpakaian serba putih. Sungguh wajah mereka bersih dan keliatan seperti bersinar. Jumlah mereka juga cukup banyak. Akhirnya kamipun disuruh untuk masuk.

"Silahkan akhi Rudi ajak temennya lansung masuk karena sebentar lagi pengajian akan segera dimulai" kata salah seorang dari mereka sambil menarik tangan kami penuh dengan senyum. Rudi pun mengiyakan, begitupun aku walaupun ada rasa kesal dihati ini.

Disebelah hijab sana para akhwat-akhwat yang berjilbab panjang mulai banyak beradatangan.

Singkat cerita aku pun mengikuti pengajian itu sampai selesai. Saat itu pengajian membahas tentang Cinta Kepada Allah. Salah satu nasehat dari ustadz yang memberikan tausyiah tadi ada yang mengganjal di hatiku. Apalagi ketika beliau menjelaskan tentang cinta manusia kepada lawan jenis. Ayat "wa laa taqrobuz zina" jangan lah mendekati zina. Pacaran salah satu dari contoh mendekati zina. Masih terngiang-ngiang di telingaku ayat tersebut sampai aku dikotsan.

Semenjak saat itu aku rutin mengikuti pengajian yang diadakan setiap minggu itu. Dan akhirnya akupun sedikit-sedikit faham dengan ajaran agama, yang memang selama ini aku tinggalkan.

* * * * *

Siang ini begitu cerah, burung-burung bernyanyi menghiasi irama musik kehidupan di muka bumi ini. Di bawah sebatang pohon depan perpustakaan kampus Fitri dan Wati lagi berbincang-bincang. Serius kayaknya.

" ti, kenapa yach… akhir-akhir ini Ari semakin berubah, seolah-olah dia sengaja menjauh dariku..?" Tanya Fitri kepada Wati yang juga temen akrabnya.

"Bahkan setiap kali aku sms tidak pernah dibalas, telpon tidak pernah diangkat, boro-boro ngajak jalan" terang Fitri panjang lebar.

" aku juga gak tau pasti Fit, yang jelas aku juga ngerasain dia berubah banget sekarang" jawab Wati.

"entahlah…! Aku bingung." Ketus Fitri

"akhir-akhir ini aku sering melihat Ari menyendiri berzikir di masjid kampus, terkadang dia menghadiri pengajian. Padahal khan dia anti banget dengan yang gitu-gituan kan?" tambah Wati.

"aku jadi penasaran dengan pengajian yang diikutinya, minggu depan aku akan selidiki pengajian apa sich yang membuat Ari berubah kepadaku…?, apakah gara-gara pengajian itu dia menjauhi aku" komentar Fitri dengan penuh emosi seraya berlalu..

Merasa hubungannya sudah kurang harmonis, Fitri bertekad untuk menyelidiki penyebabnya. Ia tidak mau hubungannya digantung seperti ini. Ia ingin minta kejelasan dari Ari tentang hubungannya ini. Semoga kata putus tidak pernah terlontar nantinya karna Fitri benar-benar masih saying kepadanya. Ia rela mengahadapi apapun demi memperjuangkan cintanya. Baginya cintanya pada Ari adalah segala-galanya…

Pada minggu yang telah ditentukan, keduanya bersiap menjalankan aksi mereka untuk menyelidiki Ari. Mereka telah berencana untuk menyelidiki siapa orang yang telah membuat sikap Ari berubah padanya, dan mereka juga akan mencari tau tentang apa yang sedang dipelajari oleh Ari. Demi untuk mencari tau hal tersebut akhirnya Fitri dan Wati masuk kedalam masjid bergabung dengan para akhwat yang berada di sebelah tabir untuk ikut serta mendengarkan ceramah yang akan disampaikan.

Lama sudah mereka ikut pengajian tersebut. Perlahan keduanya husyuk mendengarkan tausyiah-tausyiah yang diberikan oleh ustadz yang berbicara di depan. Hingga hidayah itupun datang. Diam-diam hati Fitri tertegun memikirkan kata demi kata yang disampaikan ustadz itu. Terlebih saat ia membacakan dan menjelaskan tafsiran dari ayat "wa laa taqrobuz zina". Tanpa terasa butiran-butiran air mata mulai mulai menetes, meng-anak sungai di pipinya tak terkecuali dengan Wati. Meratapi dosa-dosa yang telah ia perbuat, menangisi kesalahan-kesalahannya selama ini. Ia tersedu dan terus tersedu sambil mengusap air mata dengan saputangan yang dipegangnya. Sehingga beberapa akhwat yang ada di dekatnya sejenak melemparkan pandangan kepadanya, dan dengan penuh kelemah lembutan serta senyum ikhlas merekapun merangkul dan ,mengelus-ngelus pundak Fitri.

"sungguh hidayah Allah diberikan kepada orang yang dikehendakinya"

Sejak kejadian itu Fitri selalu sering menyendiri di mesjid kampus sambil menunggu jam kuliah. Terkadang ia membaca alqur'an yang selalu ia bawa di dalam tasnnya. Sesekali ia berzikir dengan husyuknya dan tak jarang air matanya meleleh. Penampilannyapun perlahan-lahan sudah mulai berubah. Yang dulu setiap kali berangkat ke kampus selalu mengenakan celana jeans ketat, sekarang ia sudah bisa pake rok panjang, dan tak jarang ia pake baju gamis. Bak bidadari yang turun dari kayangan. Jilbab pendek yang dulu hanya sekedar menempel di kepala dan melilit di leher, sekarang mulai berubah menjadi jilbab besar nan cantik alias " jilbaber"

Sungguh benar-benar menakjubkan, sifat genit nan centilnya dulu kini telah luntur menjadi sifat seorang wanita muslimah yang sesungguhnya. Entah kemana Fitri yang dulu. Yang jelas Fitri yang sekarang jauh telah berubah 180° dari yang dulu. Ia selalu menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang membuat ia dekat dengan Allah. Sehingga ia tak sempat untuk berfikir berbuat maksiat lagi.

* * * * *

Sore itu Kota Bandung begitu cerah. Awan teduh menyelimuti bumi Parahiyangan nan indah ini. Di kejauhan angkasa terlihat layang-layang berterbangan seperti berlomba-lomba mencapai awan. Tak jarang ada laying-layang yang putus dan hilang dibawa oleh angin ke awan. Warna-warni layangan tersebut semakin menghiasi langit sore itu.

Sehabis shalat asar aku duduk sendirian di depan kotsan , di kursi teras depan. Sambil menikmati pemandangan indah sore itu, kurogoh kantong saku ku untuk mengambila hp, dan sejenak jemariku sibuk mengutak-atik hape Nokia N70 itu.

Sore itu entah setan apa yang merasuki hatiku, sehingga aku teringat akan Fitri pacarku yang sudah lama tidak aku temui apalagi ngobrol-ngobrol bareng seperti dulu. Iseng aku kirim sebuah sms kepadanya dengan gombal.

"Asw… sore!!!

Apa kabar dear…??" sms terkirim dari hape ku.

Tak berapa lama hp ku berbunyi, aku lihat ternyata balasan dari Fitri.

"alhamdulilah baik…" jawabnya singkat.

Tanpa fakir panjang aku balas sms itu.

" malam ni kita ketemua yuk…!aku tunggu di kantin taman bunga sambil makan malam bareng" ajakku.

Ok….! Jawabnya singkat. Hatiku berbunga-bunga.

Aku gak tau sore itu aku dirayu dan digoda oleh setan mana, sehingga aku berani ngirim sms kaya' gitu.

Malam harinya tepat pukul 19.30 malam aku sudah berada ditempat yang dijanjikan. Dengan modal stile yang cukup, aku terus menunggu. Tanpa terasa, satu jam sudah aku menunggu, namun Fitri yang kutunggu-tunggu belum kunjung juga datang. " apakah Fitri lupa??" fikirku dalam hati. Ah…entahlah…!

Hingga akhirnya aku berinisiatif untuk bertanya pada pelayan kantin yang tengah nyantai itu. Boleh jadi Fitri sudah duluan datang kesini dan pulang lagi. Aku bergegas menuju pelayan itu. Belum sempat aku bertanya, pelayan itu menghampiriku dan bertanya.

" apakah aa' yang bernama Ari?..." Tanya pelayan itu ramah.

"iya…! Ada apa??" tanyaku balik penasaran.

" ini ada titipan surat dari seorang wanita kira-kira dua jam lalu…"

" wanita itu memakai jilbab pink panjang dan besar, pake baju gamis putih, yang jelas orangnya cantik sekali seperti seorang ustadzah muda yang sangat anggun." Terang pelayan itu panjang dan lebar seraya menyerahkan surat itu kepadaku.

"terimakasih mbak…!" jawabku singkat sambil mengambil surat itu dan berlalu.

Aku semakin bingung, siapakah wanita kerudung panjang pake gamis putih nan anggun itu? Siapakah wanita yang telah mengirim surat ini. Berkecamuk pertanyaan itu dalam benakku. Hingga tanpa fakir panjang aku lansung membuka amplop surat itu dan membaca isinya:

Assalamu'alaiku warohmatullah wb

Buat

a' Ary yang sedang

menunggu

Bismillah…

Semoga orang yang menulis dan membaca surat ini diampuni oleh Allah swt dan selalu berada dalam lindunganNya. Karna hanya lingdunganNya saja yang bisa menyelamatkan manusia dari segala hal apa pun.

A' Ary…

Sebelumnya mohon maaf karena saya gak memenuhi janji untuk bertemu malam ini. Bukannya saya lupa pada janji atau tidak cinta lagi, dan bahkan membenci aa'. sungguh tidak….a' !!. saya hanya malu …tak lebih dari itu. Malu pada diri saya sendiri terlebih lagi saya malu kepada Allah yang Maha Melihat. Karena saya baru sadar kalau selama ini saya tidak pernah merasa malu kepadaNya. Malu akan dosa-dosa kepadaNya dan malu kepada engkau yang terlalu suci untuk dinodai.

A' Ary…

Tiga minggu yang lalu saya pernah kecewa kepadamu, rasanya benar-benar sakit dan sakit. Namun keperihan itu saya pendam dalam-dalam di sanubari. Saat aa' tidak pernah lagi balas sms dari saya, saat aa' mulai menjauh, saat aa' gak pernah ngajak jalan bareng lagi. Jujur saya kecewa dengan perubahan aa' ini. Mungkinkah ada orang lain di hati aa' selain saya, begitu fikirku. Yang jelas saya bertekad suatu saat akan menghabisi orang yang telah merebut hatimu sehingga berpaling dariku. Ternyata saya salah. Seminggu setelah itu saya pernah mengikutimu diam-diam kesebuah pengajian bersama Wati. Dengan niat ingin tau siapa orang yang telah membutakan hatimu. Tapi di situ malah sebaliknya yang saya dapatkan. Betapa tausyiah-tausyiah dari ustadz yang saat itu mengisi ceramah perlahan masuk kedalam kalbuku dan menderaikan air mata mengenang dosa-dosa ini. A' Ari terima kasih telah menyadarkan ku dengan sikapmu.

A' Ary…

Betapa bodohnya saya, telah membuatmu terlena dalam rayuan saya dulu. Saya baru sadar ternyata hubungan yang kta jalani selama ini jauh dari rahmat Allah. Hubungan kita hanyalah sebuah jebakan setan untuk menyesatkan kita. Kita terjebak dalam cinta yang salah yang dihiasi nafsu belaka. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita berdua dulu.

A' Ary…

Bantu saya dalam mencari cinta Allah. Bantu saya mendekatkan diri kepadaNya, karena saya baru tau cinta sejati adalah "Cinta Allah kepada hambaNya". Bukun cinta kita yang selama ini, sungguh bukan….!!!. mulai saat ini kita lupakan cinta kita dulu. Cintakan hati kita sepenuhnya kepada Allah sekarang. Dan maafkan kalau untuk selanjutnya kita tidak akan menjalin hubugan seperti dulu lagi. Saya yakin aa' jauh lebih mengerti dari saya.

Sekali lagi terimakasih telah menyadarkan saya….

Kalaupun kita ditaqdirkan berjodoh, InsyaAllah kita akan bersama lagi. Percayalah janji Allah a'…

Saya serahkan semuanya pada Allah….

Wassalam…wr wb

Ttd

(Fitri Dwi Anggraeni)

Betapa tersentak hatiku bagai disayat-sayat sembilu membaca surat itu. Betapa aku tidak percaya ke ajaiban semua ini Tak terasa air mataku menetes membasahi surat yang ada di tanganku. Oh…Tuhan benarkah dia yang wanita yang menulis surat ini? Benarkah dia yang berjilbab panjang bak seorang ustadzah kata pelayan tadi. Benarkah dia….ya Allah??? Benarkah dia telah berubah?? Gumam hatiku.

Ampuni hamba ya Allah telah berburuk sangka kepadanya, maafkan hamba yang telah mengecewakannya. Ampuni dosa hamba yang lemah dan bodoh ini ya Robb. Tunjukan kami jalan yang lurus. Jalan yang Engkau ridhai, bukan jalan orang-orang yang engkau murkai.

* * * * *

Sesampainya dikotsan, tak henti-hentinya hatiku beristighfar kepada Allah, memohon ampun kepadanya. Memohon petunjuk kepadanya. Berdoa semoga nikmat hidayah engkau tetapkan untuk kami berdua, dan seluruh orang mu'min.

Sejak saat itu mereka tidak pernah lagi menjalin hubungan yang dilarang oleh Allah itu. Keduanya sibuk mendekatkan diri kepada Allah. Malam-malam mereka dilalui dengan tahajjud dan larut dalam zikir-zikir kepadaNya. Selalu hadir kesetiap majelis-majelis ilmu.

Demikianlah salah satu cara Allah mentarbiyah hamba-hambanya. Jangan pernah menunggu hidayah. Tapi carilah hidayah itu.

By:

Fachry

Kritik dan saran kirim ke: frans_jornal@yahoo.co.id

Nb: cerpen ini special buat seseorang yang pernah dihatiku

Selengkapnya...

Powered By Blogger